SEBETULNYA, APAKAH YANG SEDANG KAU TUNGGU?

November 8, 2009

marioSahabat-sahabat saya yang baik hatinya,

Setiap orang sedang menunggu.
Ada yang menunggu hasil dari pekerjaan yang dikuatkannya dengan kecintaan dan ketabahan.
Tetapi, tidak sedikit orang yang sedang menunggu yang tidak disebabkannya untuk datang.

Bagaimana mungkin mereka menunggu hasil besar dari pekerjaan yang mereka lakukan dengan kesungguhan kecil?

Meskipun bisa sangat tidak masuk akal, tetapi

Banyak orang yang sedang memimpikan sesuatu yang besar melalui pekerjaan yang diperlakukannya sebagai beban yang harus dihindari.

Net-net, mereka ingin berhasil melalui pekerjaan yang kalau bisa – tidak mereka kerjakan.

Sahabat-sahabat saya yang jelas keinginannya,

Jika tidak diingatkan, kita sering lupa bahwa yang kita lakukan hari ini seharusnya menjadi bagian yang serius dari proses pencapaian kualitas hidup yang kita impikan itu.

Jika yang kita lakukan tidak berdampak baik bagi pembangunan kualitas hidup kita, mengapakah kita melakukannya sama sekali?

Mengapakah masih ada orang yang berlaku seperti yang dilakukannya tidak ada hubungannya dengan kehidupannya?

Mereka mungkin tidak menyadari bahwa

Kita hanya ada di dalam waktu. Tetapi, kita hidup di dalam yang kita lakukan.

Kita disebut hidup, jika kita mengisi waktu antara hari kelahiran dan saat kita berpamitan dari kesibukan dunia ini – dengan pekerjaan-pekerjaan yang bernilai.

Kita hanya sebernilai yang kita kerjakan.

Tetapi, akan selalu ada suara yang memprotes:

“Tapi khan, yang saya dapat hanya pekerjaan ini.
Yang ini saja, saya sudah untung dapat pekerjaan.
Kalau hidup saya tidak bernilai, karena hanya pekerjaan kecil ini yang saya dapat, khan saya tidak bisa disalahkan?”

Jika Anda bertemu dengan pribadi yang membutuhkan kasih sayang seperti itu, nasehatkanlah ini:

Jika yang kau cari adalah uang, maka memang tidak semua pekerjaan baik adalah untukmu. Tetapi jika engkau bersungguh-sungguh untuk melayani bagi kebaikan orang lain, maka semua pekerjaan terbaik akan didorongkan ke arahmu.

Jika engkau tidak menemukan pekerjaan yang baik, itu karena sebetulnya yang kau cari adalah uang. Bukankah engkau akan menolak pekerjaan-pekerjaan yang baik, jika engkau tidak dibayar dengan jumlah yang kau sukai?

Jika engkau benar-benar ingin bekerja, seharusnya engkau tidak merendahkan nilai dari yang kau kerjakan bagi orang lain dan bagi dirimu, hanya karena jumlah uang yang kau dapat di situ tidak memuaskan hatimu.

Ketahuilah, jika engkau meminta uang, orang lain akan mengira-ngira nilaimu sebelum mereka setuju memberimu uang.

Dan yang ini tidak enak di dengar; bahwa

Jika uang yang mereka setujui untuk kau terima itu – kecil, maka sebetulnya mereka telah mengira nilaimu sebagai yang sesuai.

Ya, sudah tentu. Mereka salah mengira, mereka salah menilai. Engkau lebih mahal dari itu.

Tetapi, engkau meminta uang. Dengannya engkau mengharuskan mereka menghitung untung dan rugi dalam memenuhi permintaanmu.

Jika yang mereka lihat tidak besar, mereka akan memberi yang kecil.

Itu hukumnya.

Yang besar diimbangi dengan yang besar.
Yang kecil diimbangi dengan yang kecil.

Dan sadarilah, bahwa

Hukum kebaikan hidup itu benar, walaupun engkau tidak berlaku benar terhadapnya.

Dalam gundah hatimu itu, upayakanlah untuk mengerti. Karena jika engkau menolak untuk mengerti, akan diperpanjanglah kegundahanmu itu agar lebih luas ruang bagimu untuk akhirnya mengerti.

Tetapi, jika ada orang yang cepat mengerti dan bersegera dengan perilaku yang lebih baik, mengapakah engkau berlama-lama dan menua dalam keraguan yang telah kau ketahui tidak akan memuliakanmu?

Sebetulnya, jika engkau tidak berbahagia di dalam keadaanmu itu, mengapakah engkau selalu menjadi yang pertama untuk mempertahankannya?

Sebetulnya, apakah yang sedang kau tunggu?

Sebetulnya, untuk apakah hidupmu itu?

Maafkanlah aku, adikku.
Bukannya aku menikmati kegundahanmu, tetapi bagaimana engkau akan tertarik untuk sampai pada keadaan yang lebih baik, jika engkau tidak gelisah dengan keadaanmu sekarang?

Terimalah ini.

Langkah pertama untuk sampai pada keadaan yang kau impikan itu, adalah langkah pertama meninggalkan keadaanmu sekarang.

Ya. Kalimat itu sederhana, tetapi tidak sederhana dampaknya terhadap kehidupanmu, jika engkau memberanikan dirimu untuk berlaku seperti yang dinasehatkannya.

Sekarang, dalam nanar matamu itu, perhatikanlah bahwa semua orang yang kehidupannya baik itu adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang bernilai bagi orang lain. Mereka berhak bagi kehidupan yang baik, karena nilai yang mereka sumbangkan bagi kebaikan kehidupan orang lain.

Bukankah sudah pernah ku katakan kepadamu, bahwa

Yang meninggikan, akan ditinggikan.

Dengannya, yang mengayakan, akan dikayakan.

Maka ini yang aku tanyakan kepadamu,
apakah yang sudah kau lakukan untuk mengayakan kehidupan orang lain?

Apakah kesibukanmu untuk mencari yang sedikit yang kau dapat itu, telah melupakanmu dari jalan yang akan memantaskanmu bagi penerimaan yang besar?

Camkanlah ini dalam kesadaranmu yang semoga sekarang lebih ramah bagi nasehat baik:

Bukan besarnya dan beratnya pekerjaan yang akan memuliakanmu, tetapi besarnya dampak dari apapun yang kau kerjakan itu bagi kebaikan orang lain – yang akan memuliakanmu.

Aku tahu masih banyak yang ingin kau tanyakan kepadaku, tetapi cukupkanlah pengertian ini bagimu saat ini.

Untuk mencapai perubahan besar, engkau tidak membutuhkan pengertian besar. Sejumput pengertian kecil yang segera kau kuatkan dengan tindakan yang bersungguh-sungguh, akan menguatkanmu untuk memindahkan gunung.

Marilah kita mengikhlaskan diri kita kepada kebaikan, agar kehidupan mengikhlaskan kebaikan bagi kita dan keluarga tercinta.

Sampai kita bertemu suatu ketika nanti.

Terima kasih dan salam super,

Mario Teguh


Bersyukur Dalam Kesempitan

Mei 29, 2009


`Dan, hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.` (QS Saba` [34]: 13).

Dengan wajah sedih, seorang laki-laki datang kepada seorang ulama. Dia mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup yang dialaminya. Ulama tersebut berkata, `Apa kamu mau penglihatanmu diambil dan diganti dengan seribu dinar?` Orang itu berkata, `Tidak.`

Sang ulama bertanya lagi, `Apa kamu senang menjadi orang bisu dan diberi seribu dinar?` Orang tersebut menjawab, `Tidak.` Sang ulama yang dikenal saleh itu kembali bertanya, `Apa kamu mau dua tangan dan dua kakimu buntung, lalu kamu mendapatkan dua puluh ribu dinar?` Orang tersebut lagi-lagi menjawab, `Tidak.`

`Apa kamu mau jadi orang gila dan dikasih sepuluh ribu dinar?` tanya sang ulama lagi. Dan, sekali lagi orang tersebut mengatakan, `Tidak.` Maka, sang ulama bijak itu pun berkata, `Terus, apa kamu ini tidak malu kepada Tuhanmu yang telah memberimu harta senilai puluhan ribu dinar?` Kisah ini berbicara, betapa banyak orang salah persepsi, dikiranya nikmat hanya sebatas harta dan materi semata. Mereka tidak menyadari bahwa nikmat Allah meliputi segala hal: keimanan, kesehatan, keluarga, tempat tinggal, kepandaian, teman yang baik, pemimpin yang adil, tumbuh-tumbuhan, makanan, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat yang harus disyukuri, baik kita memintanya maupun tidak.

Untuk menjadi orang bersyukur, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama, mengetahui apa itu nikmat dan meyakini sepenuhnya bahwa nikmat tersebut adalah pemberian Allah. Kedua, bahagia dan gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dan, ketiga, melakukan hal-hal yang disukai oleh Pemberi Nikmat, baik melalui lisan dengan ucapan `Alhamdulillah` maupun melalui perbuatan-perbuatan yang disukai-Nya.

Bersyukur dalam Kesempitan
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha


Jiwa Besar Berkah Besar

Desember 10, 2008


andre-wongso_a
Oleh : Andrie Wongso

Alkisah, seorang anak yang mengalami cacat tubuh dari lahir. Kondisi fisiknya sejak kecil hingga saat berusia 15 tahun ini sangatlah lemah. Berjalan pun harus menggunakan penyangga tubuh bahkan kursi roda selalu dipersiapkan disekitarnya bila tubuhnya tidak lagi memiliki kekuatan untuk melakukan aktivitas.


Walaupun begitu, si pemuda kecil itu tidak pernah menampakkan raut muka yang sedih. Senyuman selalu menyungging di setiap kata-kata yang terlontar dari bibirnya. Mereka sekeluarga saling menyayangi dan bergantian memberi dukungan baik fisik maupun semangat.

Di suatu senja, saat berdua menikmati matahari kembali keperaduan, si kakak membuka pembicaraan, “Dik, kita berandai-andai nih, kalau bisa atau kalau boleh memilih atau kalau ada yang Kamu inginkan dan ada yang mau memberi. Apa yang ingin Kamu rubah di kehidupanmu sekarang?”

Sambil tersenyum santai si adik menjawab “Tidak ada.” “Jangan buru-buru menjawab. Pikir baik-baik dulu. Jika Kamu diperbolehkan merubah, apapun itu, apa yang ingin Kamu rubah?” Si kakak penasaran mengulang pertanyaan yang sama. “Tidak ada kaaak! Tidak ada yang ingin aku rubah. Dan mengapa aku harus merubahnya?” Tanyanya balik.


“Kamu tidak ingin bisa berjalan sendiri? Kamu tidak ingin terlepas dari tongkat penyanggamu dan kursi roda itu?” balas si kakak dengan nada sengit. “Akh tidak mau. Dengan tongkat penyangga dan kursi roda ini, aku tidak perlu capek berjalan dan mengantri dimana pun. Hehehe. Kakak sendiri tahu kan, aku sudah bisa bermain bola dari kursi roda dan teman-temanku juga senang bermain denganku. Pokoknya tidak ada apapun yang ingin aku rubah!” serunya nyaring.

Setelah berdiam beberapa saat, si adik meneruskan bicaranya, “Kak, jangan marah dulu ya. Sungguh kak, tidak ada yang ingin aku rubah di kehidupanku sekarang, karena aku tahu dan sadar, aku tidak mungkin bisa merubah kondisi tubuhku yang lemah ini. Tetapi aku bahagia dan sangat bersyukur yaitu memiliki ayah, ibu, dan kakak yang sangat mencintaiku. Memiliki keluarga dan teman-teman yang baik, telah lebih dari cukup dari yang bisa aku harapkan. Dan aku tidak ingin merubah semua ini dan menggantikannya dengan apapun.” Segera si kakak berbalik dan memeluk adiknya sambil berbisik sayang “Terima kasih dik, kakak selalu menyayangimu.”

Pembaca yang budiman,


Banyak orang menderita kehidupannya karena tidak mampu menikmati apa yang telah diperolehnya. Tetapi selalu mencari dan menginginkan sesuatu di luar jangkauannya, merasa sukses itu ada di sana bukan berada di sini.


Maka berbahagialah orang yang mampu menerima keadaan hari ini apa adanya, tanpa mengerutu, mengeluh, dan tanpa kasihan pada diri sendiri. Mampu menerima keadaan yang tidak bisa dirubah dengan iklas dan rasa syukur itulah jiwa besar yang harus kita kembangkan di dalam mengarungi kehidupan ini agar kita tetap mantap dan tegar dalam menatap hari depan.

Kita tersenyum saat  kita maju dan sukses itu adalah hal biasa namun bisa tetap tersenyum di saat kita di rundung ketidakberuntungan, itu barulah luar biasa! Itulah kekayaan hidup. Itulah pemenang sejati!


Sebuah Teladan

November 24, 2008

Jalaluddin Rakhmat

kangjalalIni adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani.

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.

Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdo’a: “Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik ‘arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay’ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim.”

Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah ibn Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur’an di tangan kanannya: “Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur’an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur’an ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh.”

Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur’an kepada anak muda itu, “Bawalah Al-Qur’an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: Al-Qur’an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian.”

Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur’an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.

Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali ibn Abi Thalib. Ali mengucapkan do’a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. “Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka.”

Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu’awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur’an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.


ORANG YANG MUDAH NAIK DARAH

November 19, 2008


isnet

Setelah bertahun-tahun lamanya, seorang yang sangat mudah marah menyadari bahwa ia sering mendapat kesulitan karena sifatnya itu.

Pada suatu hari ia mendengar tentang seorang darwis yang berpengetahuan dalam; iapun menemuinya untuk mendapatkan nasehat.

Darwis itu berkata, “Pergilah ke perempatan anu. Di sana kau akan menemukan sebatang pohon mati. Berdirilah di bawahnya dan berikan air kepada siapapun yang lewat di depanmu.”

Orang itu pun menjalankan nasehat tersebut. Hari demi hari berlalu, dan ia pun dikenal baik sebagai orang yang mengikuti sesuatu latihan kebaikan hati dan pengendalian diri, di bawah perintah seorang yang berpengetahuan sangat dalam.

Pada suatu hari ada seorang lewat bergegas; ia membuang mukanya ketika ditawari air, dan meneruskan perjalanannya. Orang yang mudah naik darah itu pun memanggilnya berulang kali, “Hai, balas salamku! Minum air yang kusediakan ini, yang kubagikan untuk musafir!”

Namun, tak ada jawaban. Karena sifatnya yang dulu, orang pertama itu tidak bisa lagi

menguasai dirinya. Ia ambil senjatanya, yang digantungkannya dipohon mati itu; dibidiknya pengelana yang tak peduli itu, dan ditembaknya. Pengelana itupun roboh, mati.

Pada saat peluru menyusup ke tubuh orang itu, pohon mati tersebut, bagaikan keajaiban, tiba-tiba penuh dengan bunga. Orang yang baru saja terbunuh itu seorang pembunuh; ia sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan kejahatan yang paling mengerikan selama perjalanan hidupnya yang panjang.

Nah, ada dua macam penasehat. Yang pertama adalah penasehat yang memberi tahu tentang apa yang harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang pasti, yang diulang-ulang secara

teratur. Macam yang kedua adalah Manusia Pengetahuan. Mereka yang bertemu dengan Manusia Pengetahuan akan meminta nasehat moral, dan menganggapnya sebagai moralis. Namun yang diabdinya adalah Kebenaran, bukan harapan-harapan saleh.

Catatan

Guru Darwis yang digambarkan dalam kisah ini konon adalahNajamudin Kubra, salah seorang yang paling agung di antara para ulama Sufi. Ia mendirikan Mazhab Kubrawi ‘Persaudaraan Lebih Besar’ yang sangat mirip dengan Mazhab yang kemudian didirikan oleh Santo Fransiskus. Seperti Santo Asisi, Najamudin dikenal memiliki kekuasaan gaib atas binatang.

Najamudin adalah salah seorang di antara enam ratus ribu orang yang mati ketika Khwarizm di Asia Tengah dihancurkan pada tahun 1221. Konon, Jengis Khan Si Mongol Agung bersedia menolong jiwanya jika Najamudin mau menyerahkan diri, karena Sang Kaisar mengetahui kemampuan istimewa Sang Darwis. Tetapi Najamudin tetap berada di antara para pembela kota itu dan kemudian ditemukan di antara korban perang tersebut.

Karena telah mengetahui akan datangnya mala petaka itu, Najamudin menyuruh pergi semua pengikutnya ke tempat aman beberapa waktu sebelum munculnya gerombolan Mongol tersebut.


Halalbihalal

November 17, 2008

gusmus

Oleh: A. Mustofa Bisri

Istilah halalbihalal (menulisnya digandeng, jangan dipisah-pisah), meskipun kedengarannya seperti istilah Arab, sebenarnya ‘asli’ Indonesia atau setidaknya Melayu. Meski bahan bakunya (halal dan bi) dari Arab, orang Indonesia/Melayulah yang merakitnya menjadi istilah sendiri.

Di Arab sendiri- dalam kamus-kamus Arab maupun percakapan sehari-hari-istilah halal bihalal termasuk pengertiannya, tidak ada dan tidak dikenal.

Istilah halalbihalal dan pengertiannya memang khas Indonesia. Menurut KBBI, halalbihalal ialah acara maaf-memaafkan pada hari lebaran. Ini tradisi baik sekali yang hanya dijumpai di Indonesia/Melayu, meskipun sayang kini sudah mengalami degradasi.

Tradisi maaf-memaafkan di lebaran, setelah puasa Ramadhan ini merupakan salah satu bukti kearifan pendahulu-pendahulu kita yang pertama-tama mentradisikannya. Dulu, sebelum orang terlalu sibuk seperti sekarang, apabila datang lebaran, sehabis shalat ‘Id, masyarakat saling mengunjungi dan saling meminta maaf.

Saya masih sempat menyaksikan orang-orang tua dulu meminta maaf kepada sahabat, kerabat, atau saudara mereka dengan ungkapan penyesalan yang rinci agar mendapatkan pemaafan. Bukan hanya meminta maaf, tapi juga meminta halal apabila ada hak Adami yang termakan atau terpakai dengan sengaja atau tidak sengaja. Mereka yang dimintai maaf dan dimintai halal, biasanya dengan mudah memberikannya sambil balik meminta yang sama. Mereka saling memaafkan dan saling menghalalkan. Halalbihalal.

Para pendahulu yang mentradisikan tradisi mulia ini pasti tahu bahwa Rasulullah SAW menjamin mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan semata-mata hanya karena iman dan mencari pahala Allah, akan diampuni dosa-dosa mereka yang sudah-sudah.“Man shaama Ramadhaana iimaanan wah tisaaban, ghufira lahu maa taqaddaa min dzambihi.” (Hadits shahih muttafaq ‘alaih dari sahabat Abu Hurairah r.a).

Hebatnya, mereka para pendahulu itu, juga tidak lupa bahwa selain dosa hamba kepada Tuhannya, masih ada satu dosa lagi yang justru lebih perlu diperhatikan; yaitu dosa hamba kepada sesamanya. Di banding dosa kita kepada Allah, dosa kita kepada sesama sebenarnya jauh lebih gawat. Kenapa? Karena Allah, seperti kita ketahui, Maha Pengampun dan suka mengampuni. Sementar, manusia tidak demikian. Manusia sulit. Padahal, dosa kita terhadap sesama tidak akan diampuni sebelum yang bersangkutan memaafkan. Tanggungan kita kepada sesama akan tetap menjadi tanggungan kita, sebelum yang bersangkutan menghalalkannya.

Rasulullah SAW berpesan agar apabila diantara kita ada yang mempunyai kesalahan kepada seseorang, apakah menyangkut kehormatannya atau apa, hendaklah dimintakan halal sekarang juga sebelum uang dinar dan dirham tidak lagi ada gunanya; jika (tidak,) bila dia mempunyai amal saleh, nanti akan diambil dari amalnya itu seukur kesalahannya dan bila tidak memiliki kebaikan, akan diambil dari dosa-dosa orang yang disalahinya dan dibebankan kepadanya “Man kaanat lahu mazhlumatun liahadin min ‘irdhihi au syai-in falyatahallalhu minhu alyauma qabla an laa yakuuna diinarun walaa dirhamun; in kaana lahu ‘amalun shaalihun ukhidza minhu biqadri mazhlumatihi, wain lam takun lahu hasanaatun ukhidza min sayyiaati shaahibihi fahumila ‘alaihi.” (HS riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah r.a)

Marilah kita ingat-ingat, apakah kita pernah menyakiti sesama. mungkin kita tidak sengaja pernah mengucapkan kata-kata yang melukai saudara kita. Kadang-kadang, karena kita merasa berniat baik, menegur kawan untuk memperbaikinya, lalu kita mengabaikan kesantunan bicara kita dan menyinggung perasaan kawan kita itu. Mungkin kita sudah berhati-hati, tapi tetap saja ada sikap kita yang membuat orang lain sakit hati. Maka adalah bijaksana, apabila dalam kesempatan lebaran ini-setelah mengharap dosa-dosa kita kepada Allah diampuni-kita memerlukan meminta maaf dan meminta halal terutama kepada mereka yang kita perkirakan pernah kita salahi.

Saya sendiri dalam kesempatan ini juga ingin menyampaikan tahniah ‘Id kepada segenap pembaca dan dengan kerendahan hati memohon maaf lahir batin atas segala kekhilafan dan kesalahan saya. ‘Iedun sa’ied, a’aadahuLlahu ‘alaikum bissaaadati walkhairi warrafaahiyah wakullu ‘aamin wa antum bikhair.


Nasehat Perkawinan untuk ARDI

November 10, 2008

Nasehat perkawinan ini dicukil dari sebuah buku untuk Sahabat terbaikku ARDI yang dalam waktu dekat akan memasuki dunia baru.

ayat-ayat-cinta2Perkawinan adalah suatu perintah dari Allah swt. Dan ini adalah jalannya paraNabi as, dari sejak manusia pertama Nabi Adam as dan wanita pertama Siti Hawa.

Mereka menikah di surga, oleh karena itu Allah memberikan mereka wewangian surga agar mereka bahagia. Namun wewangian itu haruslah mereka pelihara selama hidup, hal ini sangat penting untuk kalian ketahui !..

Saat inipun kita meminta Allah swt untuk memelihara wewangian tersebut sepanjang hidup kita didunia ini. Agar bisa langgeng bersama dalam kehidupan selanjutnya, yaitu kehidupan akhirat. Inilah arti sebenarnya dari suatu perayaan pernikahan bagi pasangan baru. Kita juga bersyukur pada Allah swt yang telah menciptakan lelaki dan perempuan dan memberikan bagian dari CintaIlahiahnya. Tanpa Cinta Ilahi tak seorangpun yang dapat bersatu. Dia jugamemerintahkan hambaNya suatu kehidupan terhormat dengan berpasangan, bukan satuwanita untuk banyak pria, atau satu pria untuk banyak wanita. Inilah suatu kehormatan bagi para wanita.

Seorang perempuan dikhususkan untuk satu laki-laki dan sebaliknya, dimana hal ini merupakan suatu kehormatan didalam kehidupan ini. Siapapun yang melanggar peraturan ini, maka Allah swt tidak menganggap mereka sebagai manusia terhormat. Untuk itulah kita menyelenggarakan pesta kehormantan ini dan memohon kepada Allah swt suatu kesukesesan dalam kehidupan kebersamaan.

Penting bagi kalian bahwa seorang istri hanya melihat suaminya saja. Jika anda ditanya siapa yang paling ganteng didunia ini, maka jawabannya adalah suami kalian, begitupun sebaliknya. Jika seorag istri atau suami melihat selain pasangannya, maka yang datang adalah kesulitan. Hal ini akan terjadi dibelahan dunia manapun, di timur maupun di barat. Ini adalah nasehat yang paling penting bagi pasangansuami istri.

Saya mendengar banyak pasangan yang mendaftarkan perkawinannya di KUA , tetapi setelah tiga minggu atau tiga bulan atau tiga tahun mereka masing-masing berjalan kearah yang berbeda. Hal ini karena mereka melihat perempuan atau laki-laki lain, maka perkawianan seperti ini tidak akan berhasil.

Saat ini kalian sedang membentuk suatu struktur bangunan baru yaitu Perkawinan dan kita memohon kepada Allah agar kalian saling mencintai dan tampak baik dihadapan pasangannya satu sama lain.

Wa min Allah at Tawfiq, bihurmati habib al-Fatihah